BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Ingatan memberikan bermacam-macam arti bagi para ahli. Pada umumnya memandang ingatan sebagai hubungan pengalaman dengan masa lampau. Dengan adanya kemampuan untuk mengingat pada manusia, menunjukkan bahwa manusia mampu untuk menyimpan dan menimbulkan kembali apa yang pernah dialaminya. Apa yang telah pernah dialami oleh manusia tidak seluruhnya hilang, tetapi disimpan dalam jiwanya; dan bila suatu waktu dibutuhkan hal-hal yang disimpan itu dapat ditimbulkan kembali. Tetapi ini pun tidak berarti bahwa semua yang telah pernah dialami itu akan tetap tinggal seluruhnya dalam ingatan dan dapat seluruhnya ditimbulkan kembali atau dengan kata lain ada yang dilupakan. Peristiwa kelupaan ini dapat terjadi karena kemampuan ingatan yang terbatas, cepat lambat orang dalam memasukkan (mendispersi) apa yang ia pelajari, ataupun karena problem psikologis yang ada pada dirinya. Sehingga diperlukan teknik-teknik tertentu untuk mengatasi kelupaan yang terjadi pada diri siswa. Banyak kiat-kiat yang dapat dicoba untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk mengingat, seperti yang dikemukakan oleh Barlow, Reber, dan Anderson yang akan Penulis bahas dalam makalah ini. Selain megenai lupa, penulis juga akan membahas tentang transfer dalam belajar (trasfer of learning) yang merupakan pemindahan keterampilan hasil belajar dari satu situasi ke situasi lainnya. Hal ini akan dibahas lebih lanjut dalam makalah ini.

B. RUMUSAN MASALAH

I. Bagaimanakah definisi lupa dan hilang ingatan?

II. Apakah faktor yang menyebabkan lupa?

III. Bagaimanakah kiat-kiat megurangi lupa?

IV. Apakah transfer belajar itu?

V. Apa saja teori-teori mengenai trasfer belajar?

VI. Apa saja ragam dalam transfer belajar?

VII. Faktor-faktor apa sajakah penyebab trasfer belajar?

BAB II

PEMBAHASAN

I. DEFINISI LUPA DAN HILANG INGATAN

Ingatan memberikan kemampuan manusia untuk dapat mengingat suatu hal. Hal tersebut juga menunjukan bahwa manusia mampu untuk menyimpan dan menimbulkan kembali apa yang telah pernah dialaminya. Hal yang pernah dialaminya tersebut tidak sepenuhnya hilang, tetapi tetap tersimpan dalam jiwanya dan pada suatu waktu tertentu jika dibutuhkan dapat ditimbulkan kembali. Tetapi bukan berarti semua yang telah pernah dialaminya itu akan tetap tersimpan seutuhnya dalam ingatan kita dan dapat ditimbulkan kembali saat dibutuhkan. Terkadang ada hal-hal yang tidak dapat ditimbulkan kembali atau yang dilupakan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa lupa merupakan ketidakmampuan untuk mengingat atau menimbulkan kembali hal-hal tertentu yang telah pernah dialaminya. Lupa (forgetting) ialah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau mereproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita pelajari. Secara sederhana, Gulo (1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. Sedangkan hilang ingatan adalah hilangnya kemampuan untuk mengingat atau menimbulkan kembali yang disebabkan oleh hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita. Dibandingkan dengan hilang ingatan, lupa memiliki cakupan yang lebih sempit yaitu hanya pada hal-hal tertentu saja. Dalam hal lupa, item informasi dan pengetahuan yang tersimpan di dalam ingatan tidak hilang (masih ada) tetapi hanya disebabkan lemahnya item tersebut untuk ditimbulkan kembali. Sedangkan dalam hal hilang ingatan, item tersebut hilang dari ingatan kita. Lupa tidak dapat diukur secara langsung (Wittig: 1981). Sering terjadi, apa yang dinyatakan telah terlupakan oleh seseorang siswa justru ia katakan. Sebagai contoh, ketika seorang pengajar menanyakan kepada anak didiknya tetang hal-hal apa yang telah mereka lupakan mengenai materi yang telah ia berikan. Salah seorang peserta didik menjawabnya dengan mengatakan sebagian besar materi yang telah diajarkan kepadanya. Apakah peserta didik tersebut juga masih dikatakan lupa? Tentu, tidak. Materi-materi yang dikatakannya tersebut merupakan hal-hal yang mereka ingat dan hanya sebagian kecil yang tidak dikatakannya merupakan yang dilupakan. Sehingga dapat disimpulkan lupa merupakan kegagalan untuk mereproduksi kembali hal-hal yang sebelumnya telah terjadi yang disebabkan oleh lemahnya item informasi untuk ditimbulkan ulang saat informasi tersebut dibutuhkan.

II. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB LUPA

Seseorang dapat mengingat suatu kejadian, berarti kejadian yang diingat tersebut pernah dialami atau dengan kata lain pernah dimasukkan dalam kesadaran, kemudian disimpan dan pada suatu ketika kejadian itu ditimbulkan kembali diatas kesadaran. Dengan demikian ingatan itu merupakan kemampuan jiwa untuk menerima dan memasukkan (learning), menyimpan (retention) dan menimbulkan kembali (remembering) hal-hal yang sudah lampau. Yang secara skematis dapat dikemukakan sebagai berikut: Sehingga dapat dikatakan ketiga faktor utama diataslah yang menjadi penyebab lupa. Ketidakmampuan individu (siawa) untuk mengingat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya:

a. Gangguan konflik antara item-item informasi Dalam interference theory (teoti mengenai gangguan), gangguan konflik terbagi menjadi dua yaitu proactive interverence dan retroactive interverence (Reber 1988; Best 1989; Anderson 1990). Gangguan proaktif terjadi jika materi pelajaran lama yang sudah tersimpan dalam subsistem akal permanen mengganggu masuknya materi pelajaran baru. Hal ini bisa terjadi apabila seorang siswa mempelajari materi baru yang hampir mirip dengan materi yang sudah dikuasainya dalam waktu yang singkat. Hal ini akan membuat materi baru akan sulit diingat kembali. Sedangkan gangguan retroaktif terjadi apabila masuknya materi baru membuat konflik dan gangguan terhadap pemanggilan materi lama yang tersimpan di subsistem akal permanen siswa tersebut. Dalam hal ini materi pelajara lama akan sulit sekali untuk diingat dan akan terlupakan.

b. Tekanan terhadap item-item yang sudah ada, baik disengaja atupun tidak Berdasarkan repression theory (teori represi / penekanan) oleh Reber dan Sigmund Freud, penekanan ini terjadi karena beberapa kemungkinan seperti:

i. Karena item informasi (berupa pengetahuan, tanggapan, kesan, dan sebagainya) yang diterima siswa kurang menyenangkan, sehingga ia dengan sengaja menekannya hingga kealam ketidaksadarannya.

ii. Karena item informasi yang baru secara otomatis menekan item informasi yang sudah ada.

iii.Karena item informasi yang akan direproduksi itu tertekan kealam bawah sadar dengan sendirinya lantaran tidak pernah dipergunakan.

c. Perubahan situasi lingkungan antara waktu belajar dengan waktu mengingat kembali

Perubahan situasi lingkungan yang dimaksud adalah perubahan keadaaan obyek belajar saat dipelajari dengan lama waktu belajar terhadap keadaan realnya. Sebagai contoh, ketika seorang guru mengajarkan tentang pengenalan nama-nama hewan melalui gambar yang ada disekolah, maka kemungkinan, ia akan lupa menyebutkan nama hewan tadi saat ia melihatnya dikebun binatang.

d. Perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses dan situasi belajar tertentu

Minat dan sikap siswa dalam mengikuti proses belajar akan sangat mempengaruhi besarnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan. Ketika sikap dan minat siswa sudah tidak ada, misal karena tidak senang terhadap guru, maka materi yang diajarkan akan mudah dilupakan.

e. Tidak pernah digunakannya materi pelajaran yang sudah dikuasai

Menurut law of disuse oleh Hilgard dan Bower (1975), lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan atau dihafalkan siswa. Para ahli mengasumsikan, materi yang diperlakukan demikian dengan sendirinya akan masuk ke alam bawah sadar atau mungkin juga bercampur aduk dengan materi pelajaran baru.

f. Perubahan urat syaraf otak

Perubahan urat syaraf otak tersebut dapat disebabakan oleh penyakit tertentu seperti keracunan, kecanduan alkohol, dan gegar otak sehingga kita mengalami kehilangan ingatan yang ada dalam memori permanennya. Meskipun faktor penyebab lupa banyak sekali seperti kekurangan asupan makanan, terlalu fokusnya perhatian dan pemikiran seperti memforsirkan diri, dan kurangnya olahraga, tetapi yang paling penting untuk diperhatikan adalah faktor pertama yang meliputi gangguan proaktif dan retroaktif. Kecuali hal tesebut, lupa dapat dikarenakan item informasi yang mereka serap rusak sebelum masuk ke memori permanennya. Item yang rusak (decay) itu tidak hilang dan tetap terproses oleh memori siswa, tetapi terlalu lemah untuk dipanggil kembali. Kerusakan item informasi tersebut disebabkan karena tenggang waktu antara saat diserapnya item informasi dengan saat proses pengkodean dan transformasi dalam memori jangka pendek. Kemampuan cepat atau tidaknya setiap siswa dalam memasukkan apa yang dipelajarinya berbeda-beda. Semakin cepat ia memasukkan materi yang dipelajarinya, makin besar kemungkinan ia akan mengingatnya. Materi yang lemah itu dapat diperkuat lagi dengan melakukan relearning (belajar lagi) atau mengikuti remidial teaching (pengajaran perbaikan) ternyata dapat menunjukan kinerja akademik yang lebih memuaskan dari pada kinerja akademik sebelumnya. Hal ini bermakna bahwa relearning dan remidial teaching berfungsi memperbaiki atau menguatkan item-item informasi yang rusak dalam memori siswa.

III. KIAT-KIAT MENGURANGI LUPA

Sebagai seorang pengajar yang profesional, seorang guru harus dapat mencegah peristiwa lupa yang sering dialami oleh siswa. Pada dasarnya lupa dapat ditangani dengan berbagai cara. Apabila materi yang disajikan kepada siswa dapat diserap, diproses, dan disimpan dengan baik oleh sistem memori siswa, maka peristiwa lupa tidak terjadi, atau terjadi namun tidak total. Jadi yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kiat pengjar membuat sistem memori atau akal siswa agar berfungsi secara optimal untuk memproses materi yang akan disampaikan. Kiat terbaik yang dapat dilakukan untuk mengurangi lupa adalah dengan meningkatkan daya ingat akal siswa. Menurut Barlow, Reber, dan Anderson, kiat-kiat tersebut adalah sebagai berikut.

1. Overlearning Overlearning, artinya upaya belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi pelajaran tertentu. Overlearning dapat terjadi apabila respon atau reaksi tertentu muncul setelah siswa melakukan pembelajaran atas respon tersebut dengan cara diluar kebiasaan. Sebagai contoh pembacaan Pancasila setiap hari Senin pada Upacara Bendera memungkinkan siswa memiliki pemahanan lebih mengenai materi Pendidikan Pancasila.

2. Extra Study Time Extra Study Time adalah upaya penambahan alokasi waktu belajar atau penambahan frekuensi ( kekerapan ) waktu aktivitas belajar. Penambahan alokasi waktu belajar materi tertentu, berarti siswa menambah jam belajarnya. Misalnya, dengan menambah 30 menit waktu belajar siswa. Sedangkan penambahan frekuensi belajar berarti meningkatkan kekerapan belajar materi tertentu, misalnya dari sekali sehari menjadi dua kali sehari.

3. Mnemonic Device Muslihat memori atau mnemonic device yang lebih sering disebut mnemonic saja berarti kiat-kiat khusus yang biasa dijadikan “alat pengait” mental untuk memasukkan item-item informasi kedalam memori siswa. Ragam mnemonic ini banyak ragamnya tetapi yang paling menonjol adalah sebagai berikut.

a. Rima ( Rhyme ), yaitu sajak yang dibuat sedemikian rupa yang isinya terdiri atas kata dan istilah yang harus diingat siswa. Sajak ini akan lebih baik pengaruhnya apabila diberi not-not sehingga dapat dinyanyikan. Contohnya seperti nyanyian anak-anak TK yang berisi pesan-pesan moral.

b. Singkatan, yakni terdiri dari huruf-huruf awal nama atau istilah yang harus diingat siswa. Contoh jika seorang siswa hendak mengingat nama Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim dan Nabi Musa, mereka dapat menyingkatnya menjadi ANIM. Pembuatan singkatan seyogyanya dilakukan sedemikian rupa sehingga dapat menarik dan memberi kesan tersendiri.

c. Sistem kata pasak ( peg word system), yakni sejenis teknik mnemonik yang menggunakan komponen-komponen yang sebelumnya telah dikuasai sebagai pasak (paku) pengait memeori baru. Kata komponen pasak ini dibentuk berpasangan seperti merah-saga, panas-api. Kata-kata ini berguna untuk mengingat kata dan istilah yang memiliki watak yang sama seperti darah, lipstik, pasangan langit dan bumi; neraka dan kata atau istilah lain yang memiliki kesamaan watak (warna, rasa, dan seterusnya).

d. Model Losai ( Method of Loci ), yaitu kiat mnemonik yang menggunakan tempat-tempat khusus dan terkenal sebagai sarana penempatan kata dan istilah tertentu yang harus diingat siswa. Kata “Loci” sendiri adalah jamak dari kata “lokus” yang artinya tempat. Dalam hal ini nama-nama kota, jalan, dan gedung yang terkenal dapat dipakai untuk menempatkan kata dan istilah yang kurang lebih relevan, dalam arti memiliki kemiripan ciri dan keadaan. Contoh: nama ibukota Amerika Serikat untuk mengingat nama presiden pertama negara itu (George Washington).

e. Sistem Kata Kunci ( Key Word System ), kiat yang satu ini masih tergolong baru dibandingkan kiat-kiat yang lainnya. Kiat ini dikembangkan oleh Raugh dan Atkinsen. Sistem ini biasanya direkayasa secara khusus untuk mempelajari kata dan istilah asing, Inggris misalnya. Sistem ini berbentuk daftar kata yang terdiri atas unsur-unsur sebagai berikut: i) kata-kata asing, ii) kata-kata kunci, yakni kata-kata bahasa lokal yang paling kurang suku pertamanya memiliki suara atau lafal yang mirip dengan kata yang dipelajari, iii) arti kata asing yang dipelajari. Contoh: Kata Inggris Kata Kunci Arti Astute Butterfly Challenge Domination Eyesight Fussy Astuti Baterai Celeng Domino Aisyah Fauzy Cerdik, lihai Kupu-kupu Tantangan Penguasaan Penglihatan Cerewet

4. Pengelompokan Maksud kiat pengelompokan (Clustering) adalah menata ulang item-item materi menjadi kelompok-kelompok kecil yang dianggap lebih logis dalam arti bahwa item-item tersebut memiliki signifikasi dan lafal yang sama atau sangat mirip. Penataan atau pengelompokan ini direkayasa sedemikian rupa dalam bentuk daftar-daftar item seperti: a. Daftar I, terdiri atas nama-nama negara serumpun, seperti: Indonesia, Malaysia, Brunai dan seterusnya; b. Daftar II, terdiri atas singkatan-singkatan lembaga negara, seperti MPR, DPR, dan seterusnya: c. Daftar III, terdiri dari singkatan-singkatan nama-nama badan internasional, seperti: WHO, ILO, dan sebagainya

5. Latihan Terbagi Latihan terbagi atau distributed practice adalah latihan terkumpul (massed pratice), yang sudah dianggap tidak efektif lagi karena mendorong siswa membuat cramming, yakni belajar banyak materi dengan tergesa-gesa dalam waktu yang singkat. Dalam melaksanakan distributed practice, siswa dapat menggunakan berbagai metode dan strategi belajar yang efisien.

6. Pengaruh Letak Bersambung Untuk memperoleh efek positif dari pengaruh letak bersambung (the serial position effect), siswa dianjurkan menyusun daftar kata-kata (nama, istilah, dan sebagainya) yang diawali dan diakhiri dengan kata-kata yang harus diingat. Kata-kata yang harus diingat oleh siswa tersebut sebaiknya ditulis dengan menggunakan huruf dan warna yang mencolok agar tampak sangat berbeda dari kata-kata lainnya yang tidak perlu diingat. Dengan demikian kata yang ditulis pada awal dan akhir daftar tersebut memberi kesan tersendiri dan diharapkan melekat erat dalam subsistem akal permanen siswa.

Selain ke enam kiat-kiat diatas, Seorang guru dapat mengurangi lupa dengan berbagai cara lain seperti berikut ini.

Pertama, mencoba menimbulkan atau meningkatkan memotivasi belajar siswa dengan menyadarkan mereka akan tujuan instruksional yang harus mereka capai. Hal ini dapat dilakukan, misalnya dengan menjelaskan manfaat materi pelajaran dalam kehidupan sehari-hari, dan masa depan mereka

Kedua, mencoba selalu menjelaskan unsur-unsur pokok sebelum menunjukkan unsur-unsur penunjang yang relevan dalam materi pelajaran yang disajikan. Dalam hal ini seorang guru direkomendasikan untuk mendemonstrasikan dengan alat-alat peraga yang tersedia atau memberi tanda-tanda khusus pada kata atau istilah pokok.

Ketiga, mencoba untuk selalu menghubungkan materi yang akan diajarkan dengan materi yang telah diajarkan pada sesi yang lalu. Keempat, ketika seorang guru bertanya kepada anak didiknya mengenai materi yang telah diajarkan, dengan memperhatikan:

a. Seyogyanya pertanyaan itu disampaikan dengan cara yang akrab dan tidak menegangkan, tetapi wibawa tetap dijaga.

b. Pertanyaan harus jelas dan tidak mengandung banyak tafsiran

c. Pertanyaan hendaknya mengandung suatu masalah agar siswa dapat memusatkan proses sistem akalnya untuk mencari respon

d. Pertanyaan tidak hanya untuk mendorong siswa menjawab “ya” atau “tidak” sebab hal ini akan menghambat kreativitasnya.

e. Jika siswa tidak mampu menjawab, Pendidik tidak perlu mendesaknya.

f. Segera tawarkan pertanyaan yang tidak terjawab tersebut ke teman lain agar teman yang tidak bisa menjawab dapat menggambil pelajaran dari teman lainnya.

g. Berilah pujian terhadap anak didik ketika ia bisa menjawab pertanyaan tersebut.

IV. TRANFER BELAJAR

PENGERTIAN TRANFER BELAJAR

Menurut L.D. Crow dan A. Crow, transfer belajar adalah pemindahan-pemindahan kebiasaan berfikir, perasaan atau pekerjaan, ilmu pengetahuan atau keterampilan, dari suatu keadaan ke keadaan belajar yang lain. Pengetahuan dan keterampilan siswa sebagai hasi belajar pada masa lalu seringkali mempengaruhi proses belajar yang sedang dialaminya sekarang. Tranfer dalam belajar yang biasa disebut dengan tranfer belajar (tranfer of learning) itu mengandung arti pemindahan keterampilan hasil belajar dari suatu situasi ke situasi berikutnya (Reber: 1988). Kata “pemindahan keterampilan” tidak berkonotasi hilangnya keterampilan melakukan sesuatu pada masa lalu karena digantikan dengan keterampilan baru pada masa sekarang. Oleh sebab itu, definisi diatas harus dipahami sebagai pemindahan pengaruh atau pengaruh keterampilan melakukan sesuatu terhadap tercapainya keterampilan melakukan sesuatu lainnya. Setiap pemindahan pengaruh (tranfers) seperti yang disebut diatas pada umumnya selalu membawa dampak baik itu positif ataupun negatif terhadap aktifitas dan hasil pembelajaran materi pelajaran lain atau keterampilan lain.

V. TEORO-TEORI TRASFER BELAJAR

Secara umum para ahli berpendapat bahwa trasfer dalam belajar itu bisa terjadi, akan tetapi, apa yang sebenarnya hakekat trasfer itu dan bagaimana dalam belajar, Para ahli berbeda pendirian. Yang secara garis besar dapat dibedakan menjadi tiga teori yaitu:

a. Teori Disiplin Formal/Ilmu Jiwa Daya

Bertitik tolak dari anggapan bahwa jiwa manusia terdiri dari berbagai daya seperti daya ingat dan daya pikir, maka mereka beranggapan bahwa transfer belajar hanya dapat terjadi bila “diperkuat” dan “didisiplinkan” dengan latihan-latihan yang keras dan terus menerus. Setelah daya-daya tersebut terlatih maka akan mudah terjadi transfer secara otomatis ke bidang-bidang lain.

b. Teori Elemen Identik/Ilmu Jiwa Asosiasi

William James dan Edward Thorndike tidak sependapat dengan pandangan para ahli jiwa daya, kedua tokoh ini lalu mengkritik antara lain sebagai berikut:

i) Daya ingat tidak dapat diperkuat melalui latihan.

ii) Pelajaran bahasa Latin misalnya, tidak dapat menaikan IQ.

iii) Ilmu-ilmu dalam bidang tertentu (bila ditunjuk dengan istilah Ilmu Jiwa Daya mereka telah terlatih) ternyata lemah dan tidak mampu mengamati dan menganalisis dalam bidang-bidang lain, ini berarti tranfer secara oomatis tidak terjadi. Kemudian kelompok asosiasi ini berpendapat bahwa transfer hanya akan terjadi bila dalam situasi yang baru terdapat unsur-unsur yang sama (identical elements) dengan situasi terdahulu yang telah dipelajari. Misalnya, individu yang telah lihai naik sepeda motor honda, ia tidak akan mengalami kesulitan bila mengendarai motor merk suzuki, karena sepeda motor ini mempunyai banyak unsur yang sama, maka bila sekolah menghendaki terjadinya transfer, bahan-bahan pelajaran harus dan mempunyai unsur-unsur kesamaan dengan kehidupan masyarakat.

c. Teori Generalisasi

Peletak pandangan ini adalah Charles Judd, ia beranggapan bahwa transfer bisa terjadi bila situasi baru dan situasi lama telah dipelajari mempunyai kesamaan prinsip, pola atau struktur, tidak kesamaan unsur-unsur. Seseorang memahami prinsip demokrasi akan mampu mengamalkan dalam situasi yang berbeda, demikian pula prinsip ekonomi, hukum, pendidikan dan lain-lain. Ketiga teori diatas, sampai sekarang masih menunjukkan kebenaran, kemampuan berfikir logis sistematis, ternyata cukup membantu dibidang-bidang lain (Ilmu Jiwa Daya). Unsur-unsur yang sama atau pola-pola yang mirip bila dipahami betul orangpun tertolong dalam menghadapi situasi yang sama sekali baru (elemen identik dan generasi).

VI. RAGAM-RAGAM TRANSFER BELAJAR

Pada perkembangan awal, transfer belajar terbagi menjadi dua yaitu transfer positif dan transfer negatif. Dikatakan transfer positif, apabila membawa efek positif terhadap kegiatan belajar selanjutnya, sedangkan dikatakn transfer negatif, jika membawa efek negatif terhadap kegiatan belajar selanjutnya. Menurut Theory of Identical Element yang dikembangkan oleh E. L. Thorndike, transfer positif akan terjadi apabila terjadi kesamaan elemen antara materi yang lama dengan materi yang baru. Contoh seorang siswa yang telah menguasai matematika akan mudah mempelajari statistika, seseorang yang telah mampu untuk naik sepeda maka ia akan mudah untuk belajar naik sepeda bermotor. Sedangkan trasfer negatif terjadi ketika keterampilan yang telah dikuasai menjadi penghambat belajar keterampilan lainnya. Contoh seorang yang terbiasa untuk mengetik dengan satu jari, akan mengalami kesulitan ketika harus belajar mengetik dengan sepuluh jari. Pada perkembangan selanjutnya, Gagne, seorang education psychologist membedakan transfer belajar menjadi empat kategori yaitu

1. Transfer positif

Transfer positif yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar selanjutnya. Tranfer ini dapat terjadi jika seorang guru membantu untuk belajar dalam situasi tertentu yang mempermudah siswa belajar dalam situasi lainnya. Dalam konteks ini, Barlow mendefinisikan transfer positif adalah belajar dalam suatu situasi yang dapat membantu belajar dalam situasi-situasi lain.

2. Transfer negatif

Transfer negatif yaitu transfer yang berefek buruk terhadap kegiatan belajar selanjutnya. Tranfer ini dapat terjadi jika seorang siswa belajar dalam situasi tertentu yang memiliki pengaruh merusak terhadap keterampilan yang dipelajari dalam situasi berikutnya.

3. Transfer vertikal, yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar pengetahuan/keterampilan yang lebih tinggi. Tranfer ini dapat terjadi apabila seorang siswa belajar dalam situasi yang tertentu yang dapat meyebabkan siswa tadi mampu untuk menguasai pengetahuan/keterampilan yang lebih rumit. Contohnya, ketika seorang anak SD belajar mengenai penjumlahan dan pengurangan maka ia akan lebih mudah belajar perkalian di kelas berikutnya.

4. Transfer lateral, yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar pengetahuan/keterampilan yang sederajat. Tansfer ini akan terjadi ketika seorang siswa telah mampu menggunakan materi yang dipelajarinya untuk mempelajari materi yang sama kerumitannya dalam situasi-situasi yang lain. Contohnya, seorang siawa STM yang telah menguasai teknologi “X” dari sekolahnya akan mudah menggunakan teknologi itu di tempat kerjanya.

VII. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TRANSFER BELAJAR

1. Intelegensi

Individu yang lancar dan pandai biasanya segera mampu menganalisa dan dapat melihat hubungan logis, ia segera melihat unsur-unsur yang sama serta pola dasar atau kaidah hukum, sehingga sangat mudah terjadi transfer.

2. Sikap

Meskipun orang mengerti dan memahami sesuatu serta hubungannya dengan yang lain, tetapi pendirian/kecenderungannya menolak/sikap negatif, maka transfer tidak akan terjadi, dan demikian sebaliknya.

3. Materi Pelajaran

Biasanya mata pelajaran yang mempunyai daerah berdekatan akan mudah terjadi transfer. Contohnya: Matematika dengan Statistika, Ilmu Jiwa Daya dengan Sosiologi akan lebih mudah terjadi transfer.

4. Sistem Penyampaian Guru

Pendidik yang senantiasa menunjukkan hubungan antara suatu pelajaran yang sedang dipelajari dengan mata pelajaran yang lain atau dengan menunjuk kehidupan nyata yang dialami anak, biasanya akan mudah terjadi transfer.

BAB III

PENUTUP KESIMPULAN

• Lupa (forgetting) ialah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau mereproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita pelajari

• hilang ingatan adalah hilangnya kemampuan untuk mengingat atau menimbulkan kembali yang disebabkan oleh hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita.

• Lupa disebabkan oleh gangguan konflik antara item-item informasi, tekanan terhadap item-item yang sudah ada baik disengaja atupun tidak, perubahan situasi lingkungan antara waktu belajar dengan waktu mengingat kembali, perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses dan situasi belajar tertentu, tidak pernah digunakannya materi pelajaran yang sudah dikuasai, dan perubahan urat syaraf otak

• Lupa dapat ditangani dengan berbagai cara seperti overlearning, extra study time, mnemonic device, pengelompokan, latihan terbagi, dan pengaruh letak bersambung

• Transfer belajar adalah pemindahan-pemindahan kebiasaan berfikir, perasaan atau pekerjaan, ilmu pengetahuan atau keterampilan, dari suatu keadaan ke keadaan belajar yang lain

• Dalam teori disiplin formal, transfer belajar hanya dapat terjadi bila “diperkuat” dan “didisiplinkan” dengan latihan-latihan yang keras dan terus menerus

• Dalam teori elemen identik, transfer hanya akan terjadi bila dalam situasi yang baru terdapat unsur-unsur yang sama (identical elements) dengan situasi terdahulu yang telah dipelajari

• Dalam teori generalisasi, transfer bisa terjadi bila situasi baru dan situasi lama telah dipelajari mempunyai kesamaan prinsip, pola atau struktur, tidak kesamaan unsur-unsur

• Gagne, membedakan transfer belajar menjadi empat kategori yaitu transfer positif, transfer negatif, transfer vertikal, dan transfer lateral.

• Transfer positif yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar selanjutnya

• Transfer negatif yaitu transfer yang berefek buruk terhadap kegiatan belajar selanjutnya

• Transfer vertikal, yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar pengetahuan/keterampilan yang lebih tinggi

• Transfer lateral, yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar pengetahuan/keterampilan yang sederajat

• Faktor-faktor penyebab transfer belajar seperti intelegensi, sikap, materi pelajaran, dan sistem penyampaian guru.

DAFTAR PUSTAKA

Mustaqim. 2004. Psikologi Pendidikan. Cetakan Ketiga. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset

Syah, Muhibbin. 2008. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. ed. rev. Cetakan keempaat belas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Walgito, Bimo. 1990. Pengantar Psikologi Umum. ed. rev. Cetakan Kedua. Yogyakarta: Andi Offset dit or delete it and start blogging!